Pengantar: Kitab yang Mengubah Cara Pandang tentang Belajar

Di antara ribuan kitab klasik Islam (kitab kuning) yang tersebar di pesantren-pesantren Indonesia, Ta'lim Muta'allim fi Thariqit Ta'allum (Petunjuk bagi Penuntut Ilmu dalam Cara Belajar) karya Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji menempati posisi yang sangat istimewa. Kitab ini hampir selalu menjadi bacaan pertama bagi santri baru, bahkan sebelum mereka mempelajari fikih atau nahwu.

Syaikh Az-Zarnuji hidup pada abad ke-12 Masehi (sekitar abad ke-6 Hijriah) di kawasan Zarnuj, yang kini masuk wilayah Turki. Beliau menulis kitab ini setelah mengamati banyak pelajar ilmu yang cerdas namun tidak berhasil mengambil manfaat dari ilmunya, karena mereka meninggalkan adab dan syarat-syarat belajar yang benar.

Mengapa Adab Lebih Diutamakan dari Ilmu?

Para ulama salaf memegang prinsip yang sangat terkenal: "Tuntutlah adab sebelum ilmu." Imam Malik berkata kepada seorang pemuda yang hendak belajar kepadanya: "Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu."

Prinsip ini menjadi ruh dari kitab Ta'lim Muta'allim. Az-Zarnuji berpendapat bahwa ilmu yang tidak disertai adab adalah ilmu yang tidak membawa berkah. Seorang yang berilmu namun tidak beradab justru bisa menjadi bahaya bagi dirinya dan masyarakat.

Isi dan Sistematika Kitab Ta'lim Muta'allim

Kitab ini tersusun dalam 13 bab yang membahas berbagai aspek etika dalam menuntut ilmu:

Bab 1: Hakikat Ilmu dan Fikih serta Keutamaannya

Az-Zarnuji membuka kitabnya dengan menjelaskan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban setiap Muslim. Beliau mengutip hadis Nabi SAW: "Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim."

Bab 2: Niat dalam Menuntut Ilmu

Bab ini sangat krusial. Az-Zarnuji menegaskan bahwa seorang penuntut ilmu harus meniatkan belajarnya untuk mencari ridha Allah, bukan untuk mencari pangkat, kekayaan, atau pujian manusia. Niat yang salah akan membuat ilmu kehilangan keberkahannya.

Bab 3: Memilih Ilmu, Guru, dan Teman

Tiga hal ini, menurut Az-Zarnuji, sangat menentukan keberhasilan seorang pelajar:

  • Memilih ilmu – Dahulukan ilmu yang paling dibutuhkan dalam kehidupan agama (seperti fikih dan akidah).
  • Memilih guru – Cari guru yang paling alim, paling wara' (menjaga diri dari hal syubhat), dan paling tua pengalamannya. Az-Zarnuji mengutip: "Bersabarlah bersama gurumu sebagaimana bersabar bersama tanah."
  • Memilih teman – Pilih teman yang rajin, wara', dan jujur. Hindari teman yang pemalas dan banyak bicara.

Bab 4: Menghormati Ilmu dan Ulama

Az-Zarnuji menyebutkan bahwa seorang pelajar tidak akan mendapat manfaat dari ilmunya kecuali ia memuliakan ilmu dan ulama. Bentuk penghormatan kepada guru antara lain: tidak berjalan di depannya, tidak duduk di tempatnya, tidak memulai bicara kecuali diizinkan, dan tidak bertanya saat guru sedang lelah.

Bab 5-13: Sungguh-sungguh, Konsisten, dan Berkah Ilmu

Bab-bab selanjutnya membahas tentang kesungguhan dalam belajar, memilih waktu dan tempat yang tepat, tawakal, cara menghafal, mencari rezeki yang halal sebagai penunjang belajar, dan pentingnya tawadhu' (rendah hati).

Hikmah-Hikmah Populer dari Ta'lim Muta'allim

"Sesungguhnya aku (Syaikh Ali bin Hazm) belajar tawadhu' dari orang yang sombong, belajar wara' dari orang yang rakus, dan belajar dermawan dari orang yang kikir."

Az-Zarnuji juga mengajarkan pentingnya mudzakarah (diskusi ilmu), muzhakarah (mengulangi ilmu bersama), dan mutharahah (mendebat untuk mencari kebenaran) sebagai metode belajar yang efektif.

Relevansi Ta'lim Muta'allim di Era Modern

Meski ditulis hampir sembilan abad yang lalu, ajaran-ajaran dalam Ta'lim Muta'allim tetap sangat relevan. Krisis pendidikan modern yang melahirkan banyak orang terdidik namun tidak beretika sebenarnya bisa dijawab dengan kembali kepada nilai-nilai yang diajarkan Az-Zarnuji: ilmu tanpa adab adalah bencana.

Kitab ini tersedia dalam berbagai terjemahan Indonesia dengan syarah yang mudah dipahami. Bagi para santri dan pencinta ilmu agama, membaca dan mengamalkan Ta'lim Muta'allim adalah investasi terbaik dalam perjalanan menuntut ilmu.